Mengapa Kita Harus Menikah? #2


Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel bagian pertama: Mengapa Kita Harus Menikah? #1 Selamat membaca!

3. Menikah adalah Sarana Menuju Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah

Simaklah perkataan Imam Ghazali ini. “Pernikahan adalah penenang jiwa dan kesenangan kepada istri, yaitu tatkala bersanding dengannya, memandang, dan bercanda. Pernikahan juga menentdramkan hati dan menambah kekuatan untuk beribadah. Karena jiwa itu mudah jemu lalu menghindari kebenaran. Sebab ijiwa berbeda dengan tabiatnya. Andaikata jiwa terus menerus dibebani sesuatu yang kurang disukai, maka dia akan berteriak dan lari. Namun jika sekali waktu dihibur dengan kesenangan, maka dia menjadi kuat dan semangat.” (Imam Al-Ghazali).

Apa itu sakinah mawaddah wa rahmah?  Sakinah adalah “modal” yang Allah berikan kepada orang yang menikah atas dasar iman dan keyakinan penuh tentang kebesaran Allah SWT. Jika modal itu dikelola dengan baik, akan timbul mawaddah dan rohmah.

Sakinah diambil dari frasa ‘litaskunu ilaiha’ yang terdapat dalam surat Ar-Rum: 21. "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (litaskunu ilaiha); dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan sayang (rohmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." 

Sakinah, dalam kamus bahasa Indonesia, berarti kedamaian, ketentraman, kebahagiaan, ketenangan. Sedangkan para ulama menyebut makna sakinah adalah “cenderung atau condong dan merasa tenteram (kepada sesuatu).” Dalam bahasa yang lebih gampang, sakinah adalah ‘tidak galau.’ Remaja sekarang, sering membahasakan aneka kegundahan, kegelisahan, ketidakmantapan, dengan istilah galau. Jadi, dalam perspektif ini, sakinah adalah lawan dari kata ‘galau’. Jika kita galau, kita akan goyah. Ada angin barat, kita ikut ke barat. Ada angin timur, ikut ke timur. Tak punya prinsip atau sandaran.

Abu al-Hasan al-Mawardy, dalam An-Nukat Wa al-'Uyûn,  menjelaskan tentang mawaddah dan rohmah sebagaimana yang terdapat dalam surat Ar-Rum: 21 tersebut. Menurut beliau, ada 4 pengertian:

  • Arti Mawaddah adalah al-Mahabbah (kecintaan), adapun rahmah (rasa sayang) adalah asy-Syafaqah (rasa kasihan).
  • Mawaddah adalah al-Jimâ' (hubungan badan) dan rahmah adalah al-walad (anak).
  • Mawaddah adalah mencintai (kecintaan terhadap) orang dewasa, dan rahmah adalah welas asih atau kasih-sayang terhadap anak kecil (yang lebih muda).
  • Arti keduanya adalah saling berkasih sayang di antara pasangan suami-isteri. 

Sekilas melihat uraian Imam Al-Mawardy, definisi mawaddah adalah semacam perasaan cinta yang bersifat fisik, passionate (gairah), sebagaimana yang terjadi antara dua orang yang berlawanan jenis. Rindu-dendam, mabuk cinta, merasa ingin selalu berdekatan dengan luapan kegairahan, ini adalah mawaddah. Satu-satunya ekspresi mawaddah yang diizinkan, dan bahkan bisa bernilai ibadah, adalah kepada suami atau istri kita, berupa jimak atau hubungan seksual. Tanpa ikatan pernikahan, hubungan seks dihukumi zina.

Jika mawaddah lebih bersifat fisik, rohmah adalah sesuatu yang batiniah, berupa rasa kasih sayang. Perasaan seperti yang kita rasakan ketika tengah bergaul dengan anak kecil. Kita mungkin senang memeluk dan mencium si kecil, tetapi pelukan ciuman itu tentunya tanpa gairah. Pada perasaan rohmah, yang ada adalah rasa sayang dan kegembiraan yang penuh welas asih. Rasa rohmah itu juga yang kita rasakan ketika berinteraksi dengan sahabat-sahabat kita, juga empati terhadap orang-orang yang tertindas. Bahkan, ketika kita menyayangi kucing kita, ikan-ikan peliharaan, alam semesta dan sebagainya, itu adalah bagian dari rohmah.

4. Menikah adalah Tugas Perkembangan Manusia di Fase Dewasa Awal

Usia menikah, menurut Elizabeth Hurlock adalah salah satu kondisi kritis yang dialami manusia yang menginjak usia dewasa awal. Saat menikah, ada beberapa perubahan drastis yang dialami secara sekaligus dan tiba-tiba oleh seseorang. Status dari seorang diri menjadi pasangan. Dari lajang menjadi orang tua. Dari biasa mengejar karir di pekerjaan tanpa penganggu, kini harus bisa menjaga ritme kerja dengan banyak amanah baru. Dari anak seorang ibu dan ayah, menjadi anak dari ibu, ayah, ibu mertua dan ayah mertua. Perubahan status yang multipel dan mendadak, bisa membuat seseorang merasa syok dan memiliki gagal menentukan prioritas.

5. Menikah adalah Sebagai Ajang Refleksi dan Pendewasaan Diri 

Umar bin Khattab, bisa dikatakan bukanlah suami yang beruntung. Dia memiliki istri yang pemarah dan tidak sabar. Namun, apakah Umar kemudian menceraikan sang istri? Ternyata tidak. Umar menjadikan pernikahannya sebagai upaya refleksi diri, apakah dia sudah cukup sabar dan dewasa di dalam bersikap? 

Beginilah perkataan Umar tentang istrinya, “Ada empat alasan yang membuat aku sabar dan lembut menghadapi istriku, pertama, dialah yang memasak makananku, kedua, dialah yang membuat, mengadoni dan memasakkan rotiku,  ketiga, dialah yang mencucikan pakaianku, alasan keempat, dialah yang menyusui anak anakku.” (Sumber: Kitab Nurul Abshar ditulis As Syablanji Al Mishri dan Kitab Al Minhaj yang ditulis Hasyiyah Al Bijraini).

Penulis: Afifah Afra (sumber: www.afifahafra.com).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengapa Kita Harus Menikah? #2"

Posting Komentar