Terbang Seimbang Bersama Sayap Harapan dan Ketakutan

sumber gambar: freepik.com


Apa yang akan terjadi pada seekor burung saat terbang di angkasa, jika salah satu sayapnya terluka? Pasti burung tersebut akan oleng. Dan jika salah satu sayap itu kehilangan kekuatan, burung itu akan terjatuh dan tak mampu lagi melayang di udara. 

Dalam Al-Quran, khususnya surat Al-Mulk ayat 19, Allah SWT berfirman, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka?”

Kesempurnaan penciptaan Allah SWT tersebut sungguh menarik untuk kita renungi. Kita disuruh memperhatikan seksama bagaimana burung-burung itu terbang. Organ terpenting untuk proses terbang pada burung tentu adalah sepasang sayap tersebut. 

Keharmonisan sepasang sayap itu, sering menginspirasi para pujangga, sehingga sering kali memetaforakan kondisi patah hati sebagai broken wings, patahnya sayap-sayap. Penyair Lebanon, Kahlil Ghibran, menuliskan satu novel yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Sayap-sayap Patah”, bercerita tentang sepasang kekasih yang mengalami akhir tragis.

Dalam kehidupan, untuk menjalani aktivitas sehari-hari, sebenarnya kita juga burung. Ada dua sayap membentang di kanan dan kiri, yang harus senantiasa mengepak bersamaan, meluncur dalam keseimbangan. Sepasang sayap itu adalah harapan dan ketakutan. 

Keseimbangan antara harapan (roja’) dan ketakutan (khauf), bahkan merupakan keyword suksesnya ibadah. Seorang ulama sufi, Abu Ali ar-Rudbary berkomentar, khauf dan roja’ seperti sepasang sayap burung. Manakala kedua belah sayap itu seimbang, si burung akan terbang sempurna dan harmonis. Jika salah satu kurang berfungsi, si burung akan kehilangan kemampuannya untuk terbang. Apabila khauf dan roja’ keduanya tidak ada, maka si burung akan terdampar ke jurang kematiannya.

Khauf ibarat cemeti yang membangkitkan untuk bekerja. Sementara, roja’ adalah semangat yang menguatkan hati untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Kehidupan membutuhkan dua hal tersebut secara bersamaan dan proporsional. 

Keyakinan bahwa kita akan mampu memperoleh apa yang kita inginkan itulah yang disebut harapan, biasanya berhubungan dengan sikap optimisme. Sebuah sikap positif di mana kita selalu percaya diri bahwa kita akan mendapatkan kesuksesan, kebahagiaan dan ketercapaian target-target yang kita tetapkan.

Adapun ketakutan seringkali disinonimkan dengan kecemasan, meskipun secara spefisik sebenarnya berbeda. Ketakutan dan kecemasan merupakan salah satu jenis emosi dasar manusia, Kaplan & Sadock  (1991) menyebutkan bahwa kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal normal terjadi yang menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup manusia.

Mengapa keduanya harus berimbang? Mustahil dalam hidup kita hanya bertumpu pada harapan dan optimisme semata. Orang-orang yang ultra optimis, biasanya akan terpola menjadi sosok yang abai, kurang cermat, tergesa-gesa, terlalu menggampangkan permasalahan, dan ibarat seorang sopir, sering tabrak sana tabrak sini tanpa perhitungan.

Sementara, orang yang terlalu dominan dalam ketakutan, selalu berhitung untuk segala sesuatu. Kelewat cermat, peragu, tak berani melangkah, dan sebagainya. Orang semacam ini akan selalu dihantui kecemasan dan perasaan was-was, sehingga seringkali justru terlampau ‘lebai’ dan memandang sesuatu.

Kubu abai dan lebai tentu akan saling menemukan keseimbangan jika bertemu dan bersenyawa. Keduanya saling menyalurkan energi. Orang optimis menyalurkan energi positifnya yang berlebih kepada orang apatis. Si pencemas menetralkan kepositifan si pengharap yang terlalu menggebu-gebu. Maka, terjadilah sebuah proses persenyawaan indah yang akhirnya melahirkan jiwa-jiwa baru yang tak takut melangkah, namun tetap penuh perhitungan. Selalu yakin dengan masa depan, tetapi terus menimbang masa lalu sebagai sejarah yang akan selalu terulang. Melangkah cepat, namun dalam track yang benar. Dan seterusnya.

Jika anda termasuk orang yang sangat dominan dalam harapan, temukanlah partner-partne hidup yang bisa mengerem langkah-langkah Anda, sehingga tidak selalu ngegas. Jika Anda adalah orang yang terlalu banyak cemas, bergabunglah dengan orang-orang yang sangat optimis dengan masa depan, sehingga anda pelan-pelan bisa mencerap energi positif mereka.

Ya, mari kita terbang seimbang, dengan sepasang sayap: harapan dan ketakutan.

Penulis: Afifah Afra (dimuat seizin penulis).

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to " Terbang Seimbang Bersama Sayap Harapan dan Ketakutan"